Sunday, February 3, 2013

Chord Guitar Superman Is Dead-aku anak indonesia




Intro : Dm C F F#m
          A E C A
          D A C A
          A B E A
A                   B                            E
Aku anak Indonesia, Anak yang merdeka
G                  A                    Bm        A  E
Satu nusaku satu bangsaku, satu bahasaku
A         D    Bm     A
Indonesia.. Indonesia..
A                          B             E      A
Aku bangga menjadi anak Indonesia
Interlude : A B E A
            A B E D
A                       B    E                  A
Meniti khatulistiwa tandaku Indonesia
D                     E                F#  D               A    E
Ribu pulaunya ragam sukunya satu jiwa raganya
A         D    Bm     A   basic-chord.blogspot.com
Indonesia.. Indonesia..
             A           Bm         E        A
Aku bangga menjadi anak Indonesia
A D E  A     D   E   A
Indonesia… Indonesia…
D   E   A          E D Em D
Indonesia……
(Aku bangga menjadi anak Indonesia)
A                              B                        E
Aku anak Indonesia, Anak yang merdeka
D                 A                     D          A  E
Satu nusaku satu bangsaku, satu bahasaku
A         D    B        A
Indonesia.. Indonesia..
                A           B          E       A
Aku bangga menjadi anak Indonesia
A                          B           Bm    A
Aku bangga menjadi anak Indonesia..

Chord Guitar Superman Is Dead-Jika Kami Bersama



Intro : G# G#/Cm C# D# 2X
     G#        D#
Jika kami bersama
     C#            D#
Nyalakan tanda bahaya
     G#         D#
Jika kami berpesta
       C#        D#
Hening akan terpecah
    G#          D#
Aku dia dan mereka
       C#            D#
Memang gila memang beda
       G#           D#
Tak perlu berpura pura
       C#        D#
Memang begini adanya
Fm            D#
Dan kami disini
Fm               D#
Akan terus bernyanyi
         G#        D#
Dan jika kami bersama
     C#            D#
Nyalakan tanda bahaya
      G#         #D
Music akan terhentak
     C#         D#
Anda akan tersentak
         G#         D#
Dan kami tau anda bosan
      C#             D#
Dijejali rasa yang sama
     G#       D#
Kami adalah kamu
     C#       D#     G#
Muda beda dan berbahaya
G# D# C# D#
Lepaskan semua belenggu yang melingkari hidupmu
Berdiri tegak menantang disana garis depan
Aku berteriak lantang untuk jiwa yang hilang
Tuk mereka yang selalu kita singkirkan
Ketika tiada tempat lagi untuk berlari
Ketika tiada orang yang akan peduli
Aku dan dia selalu menunggumu disini
Tak akan skali lagi hyeeeee…
Fm            D#
Dan kami disini
Fm                D#
Akan terus bernyanyi
         G#        D#
Dan jika kami bersama
     C#            D#
Nyalakan tanda bahaya
      G#         D#
Music akan terhentak
     C#         D#
Anda akan tersentak
    G#          D#
Aku dia dan mereka
       C#          D#
Memang gila memang beda
    G#       D#
Aku adalah kamu
     C#       D#     G#
Kita muda dan berbahaya

Pee Wee Gaskins Dibenci Penonton Surabaya

peewee-gaskins“Kalian masih muda, jangan sungkan untuk protes pada kami. Kami datang untuk bersahabat,” kata Dochi di sela-sela penampilannya di konser Indiefest di Surabaya Sabtu (3/10) malam tadi. Bukan tanpa alasan vokalis PeeWee Gaskins ini bilang gitu. Pasalnya, saat mereka manggung, para penonton Surabaya malah mengacungkan jari tengah sebagai tanda benci pada band asal Jakarta ini.
Ini bukan gara-gara penontonnya chaos. Terbukti waktu Rocket Rockers naik ke atas panggung, penonton memberikan sambutan meriah. Rocket Rockers dan PeeWee Gaskins malam itu emang tampil dengan konsep Back 2 Back, alias manggung bergantian setiap satu lagu. Tapi begitu PeeWee Gaskins naik panggung lagi, lautan jari tengah pun dimulai kembali. Bahkan dilengkapi dengan hujan botol air mineral ke arah panggung.
Usut punya usut, ternyata Surabaya emang punya satu komunitas sendiri yang bernama Anti Peskins. Dari namanya udah ketebak dong, apa kesamaan para anggota Anti Peskins? Yup, mereka semua membenci Pee Wee Gaskins. Tapi untungnya kebencian ini masih bisa dibilang wajar. Meskipun mereka terus menerus mencela dan mengacungkan jari tengah sepanjang penampilan PeeWee Gaskins, nggak ada satupun dari mereka yang bikin keributan ataupun rusuh.
Ini juga dibantu oleh tanggapan anak-anak PeeWee Gaskins yang sama sekali nggak tersulut emosinya. Mereka tetap tampil maksimal, dan tetap mengucapkan terimakasih pada penonton di akhir penampilan mereka. Salut!
(www.hai-online.com)
No Image Preview
No Image Preview

SID Archieve News 12a


TimeLine Story !: Semacam report, agar visitor mendapat informasi apa yang sebenarnya terjadi, semua terangkum dari Q&A, juga opini dari beberapa orang.
Pelan pelan aja bacanya biar semua kebaca, thx.


Q : Bisa cerita tentang apa yang terjadi di Medan dan Jogja?
A : Secara ringkas, SID diperlakukan sewenang-wenang di kedua tempat tersebut. SID dipaksa turun dari panggung dengan cara "barbar" seperti dilempari batu, botol Bir, bambu runcing, kayu, air kencing dibungkus plastik, dan segala bentuk kekerasan fisik. Perlu diketahui, si oknum pelaku kekerasan hanya segelintir jika dibanding dengan para pro-SID (baik di Medan maupun Jogja) yang turut bernyanyi sejak awal hingga akhir pertunjukan. Yup, 99% penonton turut bernyanyi selama SID manggung baik di Medan maupun Jogja. Belum lagi jumlah penonton yang amat membludak di kedua kota tsb. Cuman, yang segelintir anti-SID ini bener-bener agresif dalam mengungkapkan ketidaksukaannya. Atmosfir pertunjukan jadi berubah menjadi ladang pembantaian. Sebuah penindasan hak asasi. Kami sampai berpikiran, demokrasi sudah mati di scene Punk Rock Indonesia..

Q : Kenapa sampai sedemikian kasar sikap yang ditunjukkan oleh itu para anti-SID?
A : Kami tak berani berandai-andai di sini. Tapi dari selebaran yang kami dapatkan di Medan di situ tertulis ajakan untuk memboikot SID. Antara lain kata-katanya: "Menjadi Rock Star adalah pilihan. Menjadi Punk Rock Star adalah pengkhianatan." Kami jadi tersenyum membacanya. Rupanya Punk Rock sekarang sudah banyak peraturan, begitu pikir kami. Buat kami, jika merasa tidak suka dengan SID mah silakan aja.


Go ahead. Monggo. S'il vous plais. Tapi tak perlu--dus tak benar secara hukum + melanggar hak asasi manusia--sampai menggunakan kekerasan dalam menunjukkan ketidaksukaan. Apalagi sampai menganggap diri mewakili seluruh Punk Rock scene dan membinasakan segala varian lain dari Punk Rock yang berbeda dari Anda. Itu adalah refleksi Unilateralist. Persis George W. Bush. Merasa mewakili Amerika dan merasa berhak memusnahkan para oknum yang berbeda pendapat dengan Amerika versi George W. Bush.

Sementara yang di Jogja, kurang jelas benar apa sebabnya. Bisa jadi latar belakangnya sama dengan yang di Medan. Namun yang paling jelas tersimak dari peristiwa Medan dan Jogja tsb adalah miskinnya pemahaman pada makna demokrasi dan hak asasi manusia serta gejala awal premanisme musikal.

Q : Apa yang membedakan antara insiden di USU Medan dan UPN Jogja?
A : Di Medan, SID--setelah sekitar 6 lagu--langsung menyudahi pertunjukan. Situasi sudah sangat tak terkendali. Persis kayak perang aja. Bambu runcing, kayu, botol bir, botol aqua berisikan air kencing, batu-batu besar dan kecil, berserakan di panggung. Suasana juga agak gelap. Amat riskan jika pertunjukan diteruskan. Kami tak berani mengambil resiko.

Di Jogja, setelah dua lagu pertama, terjadi huru-hara, pertunjukan dihentikan sebentar. Lampu kemudian dinyalakan. Terlihat jelas tampang-tampang itu para pemuda yang tak paham demokrasi dan buta tata krama (saat Tinka beraksi--selain terus melempar benda-benda keras ke panggung--tanpa henti mereka meneriakkan kata-kata bejat macam "lonte, sundel, ngentot", dsb, kepada Tinka. Malah sampai setelah pertunjukan sekalipun Tinka masih didorong-dorong dan dikata-katai oleh itu para Unilateralist). Kami jadi berpikir, mereka punk rocker atau preman sih? Preman aja masih bisa menghargai wanita, tapi mereka yang saat itu berada persis di depan panggung? Duh, ini sebuah preseden buruk bagi kemaslahatan Punk Rock... (Catatan: peristiwa sejenis pula terjadi saat SID manggung di Surabaya. Sarah, satu-satunya wanita di kontingen SID saat itu, juga diperlakukan amat tidak manusiawi--malah ada yang berteriak hendak memperkosa dia--oleh segelintir manusia yang mengatasnamakan Punk Rock. Hingga detik ini Sarah tak mau lagi hadir di konser-konser Rock (selain di Bali) karena masih trauma dengan kejadian di Surabaya tsb...).

Nah, lanjut yang tadi, setelah lampu dinyalakan suasana jadi terang benderang. Belajar dari pengalaman di Medan kami melihat keadaan akan lebih bisa dikendalikan jika seluruh lampu dinyalakan sehingga oknum-oknum yang melempar bisa terdeteksi dan jika terjadi situasi kritis kita tinggal ambil aja itu oknum pelaku kekerasan. Memang sih saat SID kembali melanjutkan pertunjukan lemparan-lemparan masih tetap ada namun masih bisa ditanggulangi (he he... lucu juga sih liat Bobby dan Eka sambil nyanyi sambil berkelit sana-sini menghindari batu yang liar beterbangan...).

Q : Apa bisa dibilang para perusuh itu mewakili suara Punk Rock Medan dan Jogja?
A : Ndak ngerti deh. Yang jelas--seperti kita bilang tadi--mereka adalah tipikal Unilateralist/Fasis/Nazi/salafi Radikal, telah merasa mewakili kelompoknya lalu seolah diberkahi "license to kill" oleh Tuhan Punk Rock dalam membinasakan orang yang berbeda konsep dengan mereka. Saat di Medan, setelah pertunjukan datang ke penginapan kita sosok macam Roy Romero dari Brontakzine, Army Clown, Cranium dan Underdog. Mereka bilang peristiwa tadi tak mewakili suara Punk Rock Medan. Begitu juga saat di Jogja, setelah pertunjukan datang Burhan ke belakang panggung (konon, Burhan ini adalah salah satu dedengkot Punk Rock Jogja). Burhan menyesalkan peristiwa tersebut dan tegas-tegas bilang bahwa para pelaku bukan dari Punk Rock scene Jogja.

Di penginapan juga kemudian datang Endank Soekamti, Shaggy Dog, dll entah siapa, yang senada dengan Burhan hendak mengklarifikasi bahwa peristiwa di UPN tsb bukan mewakili scene Jogja. Sebenernya buat kita masalah suka gak suka itu adalah hak masing-masing. Namun dalam menerapkannya harus disertai kedewasaan. Sekalian belajar berdemokrasi. Jika orang lain suka sementara kita gak suka jangan lalu menganiaya kemerdekaan pihak yang bersuara beda dengan kita. Contoh sosok demokratis adalah Jimmy "Punk", yang di Jakarta disebut sebagai salah satu "Mbah"-nya Punk di Jakarta. Tanpa harus punya persepsi sama tentang Punk, kita enak aja bergaul satu sama lain. Ya saat SID di Jakarta, ya saat Jimmy di Bali, SID dan Jimmy adalah sahabat dekat. Soal musik? Nanti dulu. Kita satu sama lain gak sepakat, beda pendapat. Tapi secara personal kita adalah sahabat. Hey you Unilateralists, begini ini demokrasi paling sejati.


Q : SID dibilang banci karena gak berani melanjutkan pertunjukan di Medan. Tanggapan Anda?
A : Dibilang banci, pengecut, dll, ya terserah deh. Coba aja kita tuker posisi, mereka yang berada di atas panggung, dan kita jadi pihak yang melempari mereka. Kalo mereka bisa lewat sampe 6 lagu, acung jempol tinggi-tinggi deh. Saat di Jogja itu, saat kita mundur ke belakang panggung nyusun strategi, para perusuh juga meneriaki SID banci, he he... yang banci sebenernya siapa? Beraninya cuman rame-rame trus pake bawa-bawa batu lagi.

Tuker posisi yuk, kalo gitu. Mereka di atas panggung (tetep rame-rame), SID di bawah panggung ( tetep bertiga aja) sambil bawa batu, botol bir, aqua isi air kencing, dsb. Selama non-stop 30 menit SID ngelemparin mereka. Gimana, seberapa "pahlawan" sih mereka pada?

Q : Berkaca dari kejadian sejenis begini kira-kira apa ada hubungannya dengan masuknya SID ke major label?
A : Entahlah. Lagipula, apa yang salah dengan major label? Rancid aja masuk major. Bayangin jika Sex Pistols, Ramones dan The Clash gak masuk major, wah, mungkin Indonesia baru tau yang namanya Punk Rock tahun 2000-an ini. Justru gara-gara mereka masuk major (yang notabene pendistribusiannya lebih menggurita ke penjuru dunia) Punk Rock akhirnya bisa dikenal di Indonesia. Dan faktor ke-2 SID bergabung dengan major adalah menjadi sosok realistis. SID pengen sepenuhnya hidup dari bermusik. Di Indonesia, jika ingin sepenuhnya hidup dari musik pilihan paling realistis--menurut SID--adalah bergabung dengan major. Apalagi SID bukan band tajir. Jika berkiprah terus di jalur Indie karir bermusik kita gak bakalan kemana-mana.

Bakal mentok di situ-situ aja. Itu yang SID alami sendiri bertahun-tahun. Lain persoalannya jika kita masih minta duit ama ortu, main musik cuma untuk euforia sesaat, ya bisa aja kita berkoar-koar tentang seberapa luhur suci etos D.I.Y. (bukan "Do It Yourself" tapi "Do It Your-parents" he he...). Dan dari apa yang sudah SID lihat selama ini, biasanya oknum-oknum yang ngaku paling underground tsb saat beranjak dewasa (baca: harus cari kerja), ortu mereka udah ogah mensubsidi mereka, udah deh, "karir" Punk Rock mereka habis juga di saat yang sama. Hanya sedikit yang mampu bertahan sesuai dengan apa yang digembar-gemborkannya sejak mula. Dan itu pun oh sangat-sangat sedikit yang benar-benar hidupnya bersumber dari musik tok. Mutlak diketahui, SID sudah sepenuhnya lepas dari subsidi ortu, sudah sepenuhnya ingin hidup dari musik, ya kita lalu memilih bergabung dengan major. Bedanya, kita tidak menyodorkan demo ke label manapun (major, minor, indie, major indie, whatever). Jika orang lain melakukannya (ngasih-ngasih demo ke label) silakan aja, itu pilihan berkesenian mereka dan ini negara bebas. Tapi SID tidak. Sebab SID pengen sejak awal posisi satu sama lain, antara SID dan major adalah sejajar.

Bukan bak hierarki atasan dengan bawahan. Yang biasanya terjadi, setelah sebuah band nyodorin demo ke label segera saja hierarki atasan dengan bawahan instan terjadi. Label saat itu juga cenderung merasa punya otoritas luar biasa dalam menentukan arah hidup si band. Ini musti dikurangi, itu musti ditambahi, ini cocoknya dengan itu. Segala bentuk peraturan muncul kemudian dari pihak label. Dari si band sendiri terang aja gak bisa bersikap lain kecuali manut. Bagaimana tidak, sejak awal kondisinya emang bak atasan dengan bawahan. Si band yang perlu pada label. Hierarkinya tak sejajar. Lain soal jika dari awal posisi satu sama lain berimbang. Tak ada yang lebih berkuasa di sini. Segala keputusan harus melalui kesepakatan bersama.

Nah, banyak yang buruk sangka dengan pilihan SID bergabung dengan major. SID langsung divonis bersekutu dengan iblis. SID spontan mendapat sebutan "pengkhianat". Padahal jika paham pra-kondisi, pra-sejarah SID bergabung dengan major (saksi hidup dari "luar" komunitas SID dan melihat perjalanan lengkap SID, paling kompeten ada 2 orang yaitu Felix "Pause" mag dan Wendi "Razzle" enterprise--who have been there since day one--, jika kita boleh nyebut nama) bisa jadi reaksi yang muncul akan berbeda. Tidak instan memvonis dengan sebutan ultra negatif. Malah yang akan muncul justru sebuah penghargaan pada perjuangan SID sebab masih sanggup menggabungkan sikap realistis sekaligus tetap teguh mengibarkan idealisme di saat yang sama. Sekali lagi, jika memang serius bermusik dan memang pengen hidup dari musik tentu saja main musik selalu dibayar pake tengkyu, dibayar Vodka, sekadar uang transport, wah, dijamin 100% pasti gak bakalan cukup untuk menopang hidup!

Eh, ngomong-ngomong, di Punk Rock itu berlaku standar ganda ya? Kok Sex Pistols, The Clash, dan Ramones, selalu mendapat maaf dan terus dicintai oleh Punk Rock scene atas keputusan mereka gabung dengan major. Sementara band lain yang gabung dengan major pasti langsung dicap "sell out", pengkhianat, axis of evil, dsb. How come?


Q : Apa tak punya kecurigaan bahwa major hanya memanfaatkan Punk Rock yang lagi booming di seluruh dunia lalu menjadikan SID sebagai "proyek percontohan" di Indonesia? Um, masih ingat "trend Ska"?
A : Ah, kita gak pernah ribet berpikir sejauh itu. Satu sama lain punya kepentingan berbeda. SID punya kepentingan meneruskan karir bermusik. SID hanya ingin terus berkesenian. Urusan distribusi, promo, rekaman, biar label yang ngurusin. SID cuma pengen fokus berkarya, mencipta lagu, manggung mengekspresikan diri. Jika label misalnya punya agenda tertentu ya biar aja. Selama wilayah berkesenian kita gak diintervensi ya kita mah damai-tentram-kerta-raharja aja. Dus, jangan pernah lupa, ini tahun ke-8 SID bermusik Punk Rock. Bagi SID Punk Rock itu selalu ada, tak terpengaruh trend. Persis seperti fenomena Doc Martens atau Levi's 501. Ketika sedang mencapai puncaknya Doc dan 501 dipakai oleh hampir seluruh remaja dunia, termasuk SID sendiri. Oleh media massa fenomena Doc & 501 dikategorikan sebagai trend. Ketika peminat Doc dan 501 surut di kalangan remaja, SID masih terus memakainya. SID tidak mengikuti kecenderungan yang terjadi pada remaja lainnya. SID tidak membebek pada "what's in" dan "what's out" yang ditulis media massa. Analoginya kira-kira macem begitu deh. Hey, look, we're not gonna give up the thing (read: Punk Rock) that we've been doing for the last 8 years just because the media tagged it as the year 2000 "it" thing!

Q : Bergabungnya SID dengan major menyebabkan SID memperoleh ekspos yang melebar ke penjuru Nusantara. Di lain pihak menurut Punk Rock purists ekspos berlebih adalah haram hukumnya bagi band Punk Rock.
A : SID sendiri sudah melakukan self-censorship dalam menekan ekspos agar tak berlebih.SID pribadi memang kurang menyukai gempita selebriti-selebritian. Jarang banget liat SID di tivi, kan? Emang sengaja kok (kecuali jika konsepnya cocok dengan perspektif berkesenian SID baru deh SID menyanggupi tampil). Biar kata jutaan tawaran nongol untuk tampil, SID bersikeras meminimalisir ekspos berlebih. Begitu juga dengan media cetak. Kita selektif hanya menyanggupi kerjasama dengan majalah tertentu. Begitu pula jadwal manggung.

Kita bener-bener meminimalkan tampil terlalu sering di suatu kota dan lebih mengutamakan tampil di daerah yang belum pernah dikunjungi. Semua itu maksudnya agar SID tak over-exposed. Tapi apa mau dikata, popularitas tetap tak bisa ditahan. Ketika sudah saatnya membludak ya membludak aja. Iya, terjadinya begitu saja. Natural aja. Apa pun bentuk self-censorship yang kita lakukan. Sepertinya berjuta antisipasi yang kita terapkan tak sanggup membendung minat publik pada SID. Ya akhirnya gini deh, SID terkesan mengeksploitasi Punk Rock. Padahal sebenernya semuanya berjalan alami saja.

Q : Musik SID sekarang penggemarnya kebanyakan ABG dan anak SMA. Payah.
A : Oh ya? Berarti selera anak SMA adalah cemen, jeblok secara kualitas seni, gitu? Kalo emang iya begitu, kok banyak band berebutan agar bisa tampil di acara PL Fair? Bukankah PL Fair itu acara pensi SMA? Dulu, asal tau aja, salahs seorang SID pertama kali dikasih hadiah cd MXPX di taun 1995 oleh cewek Amrik berumur 12 taun! Padahal di Nusantara ini MXPX oleh sebagian khalayak dipandang sebagai sosok sakti mandraguna.

Sementara di Amrik MXPX adalah konsumsi ABG. Apakah itu berarti MXPX adalah band buruk? Pula, ketika sebuah band berhasil menjual album sebanyak 1 juta kopi dan di saat yang sama ada 4 krikitus musik menganggap bahwa album band tsb jelek. Apakah mutlak berarti 999,996 orang yang membeli album tsb adalah orang goblok semua dan justru 4 kritikus itulah yang paling paham musik? Is that so?

Q : Apa pendapat SID tentang Kapitalisme?
A : SID gak mikirin soal tetek bengek Kapitalisme. SID minum bir, mengekspresikan diri lewat musik, dan bergembira. Ndak peduli dengan Kapitalisme Cap Go Meh.

Q : Lalu apa tanggapan SID ketika sebuah band Jakarta saat diwawancara di sebuah radio nuduh SID sebagai Agen Kapitalisme Internasional?
A : He he... mungkin band tsb lupa bahwa 99,9 % radio-radio yang ada di Indonesia adalah bagian integral dari Kapitalisme itu sendiri. Bagaimana tidak, kelangsungan hidup hampir seluruh radio di Indonesia itu bergantung pada iklan Lux, Pepsodent, Rinso, dll keluaran korporat toiletries bernama Unilever, juga korporat macam Djarum, Bentoel, dll, yang jelas-jelas perusahaan-perusahaan tsb adalah ikon masif Kapitalisme. Mendiskreditkan Kapitalisme di corong Kapitalisme? (Lupa kali ya itu Jaksa Agung Muda Urusan Pidana Kapitalisme sedang berada di Kota Madya Kapitalisme?) Er, apa itu band memang figur pemberontak Kapitalisme nomor wahid atau malah sekadar pendekar mabok gak paham esensi Kapitalisme--dan berpikiran jika sebuah band kencang meneriakkan anti Kapitalisme artinya band tsb adalah band ultra cool?

Pernah juga terjadi--contoh ironis yang lain nih--saat beberapa personel SID main ke Hard Rock Cafe Jakarta bersama sahabat asal Swedia, Erik (seorang aktivis Punk Rock yang notabene militan anti major label sekaligus kenal amat dekat dengan komunitas label Punk Rock Swedia, Burning Heart, dus kawan sepermainan dengan band macam Satanic Surfer). Malam itu Erik mengenakan kaos SID. Eh, tiba-tiba dia dideketin ama seseorang yang tampaknya gerah melihat Erik memakai kaos SID lalu segera saja menceramahi Erik dengan petuah-petuah yang intinya mengatakan bahwa SID itu bukan refleksi dari Punk Rock dus Punk Rock yang benar itu seperti ini seperti itu. Erik yang notabene "1000% sadar Punk Rock" jadi geli sendiri. Bukan karna petuah Punk Rock yang dia amat paham.

Tapi berceloteh tentang seberapa luhur suci Punk Rock di tempat macam Hard Rock Cafe (baca: ikon besar Kapitalisme)? Oh, come on, man...! Kita datang ke Hard Rock Cafe cuma untuk bersenang-senang, melepaskan diri dari kepenatan metropolitan, ndak peduli lagi soal Punk Rock Cap Go Meh. We come here to have fun. We don't care about Punk Rock, Capitalism, or else. Drinking beers and having a good time fun. Period. Miris, kan, ngeliat sang oknum "penegak ajaran Punk Rock" bersabda tentang Punk Rock di Hard Rock Cafe? Lupa kali ya itu Nabi Punk Rock sedang berada di Kapitalismepolitan?

Tentang oknum yang "tergerak hatinya" saat melihat orang lain menggunakan kaos SID, terjadi di sebuah universitas di bilangan Jakarta mana gitu. Begitu melihat ada yang pake kaos SID, wih, langsung saja mereka, kalangan cerdik cendikia Punk Rock itu, memaksa agar kaos tsb dilepaskan lalu ramai-ramai membakar itu kaos SID. Kasian banget itu yang make kaos SID yang tak mengerti apa-apa diperlakukan sedemikian sewenang-wenang. Mahasiswa, tulang punggung bangsa, kok bisa ya berbuat sedemikian opresif? Demokrasi sudah mati di tempat mana demokrasi terus bising didengungkan?
Balik ke inti persoalan, SID gak ambil pusing dengan cap

Kapitalis atau sejenisnya. We drink beers, crank up Rock 'N Roll and have big time fun!

Q : Sensitif nih, SID pernah berkata "Fuck Javanese"?
A : Ini adalah sebuah fitnah paling keji yang pernah SID terima. Terakhir malah kami baca di "Info Musik Gratis" ada seseorang yang dengan seenak jidatnya menuduh bahwa SID anti orang Jawa tanpa punya bukti sahih (kata oknum tsb setiap kali SID di panggung bakal selalu ngomong: "Fuck Javanese!". Whoa! Emang dia pernah nonton SID manggung??!). Padahal kan perbuatan macam begitu termasuk delik pencemaran nama baik dan bisa dilaporkan ke polisi agar diproses secara hukum. Saat di Surabaya juga banyak yang terprovokasi dengan isu murahan "Fuck Javanese" ini sampai-sampai SID dilempari ketika manggung di acara Volcom Skate Jam-O-Rama. (Paling inget gimana raut muka Zhewex, vokalis Karpet, duh pekat berlumur benci dan doi adalah salah satu orang yang paling aktif memprovokasi massa).

Dendam sih kita kagak. Cuma heran aja, kenapa orang bisa semudah itu termakan isu yang gak jelas juntrungannya. Apalagi ketika kemudian kami tau bahwa hal yang membuat massa kalap adalah konon kami benci orang Jawa. Anjist. Apa pula ini? Look, sederhana saja, jika SID emang anti-Jawa kenapa musti sengaja main di Surabaya? Bukankah itu bunuh diri namanya?! Atau mau bukti lain? (Paling males sebenernya meng-counter gossip murahan kayak begini, tapi karena sudah sebegitu banyak yang termakan isu ini ya udah kerjain aja... Ugh!) Setiap kali SID main di luar Bali (Jakarta, misalnya) maka SID akan memakai crew yang diambil di Pulau Jawa (Jakarta). SID gak bawa crew dari Bali. Crew yang ada di Jawa tsb terdiri dari berbagai suku yang ada di Indonesia. Dan buat SID,--kami sepaham dengan Goenawan Mohammad; kami menyebut diri "Universalis"; tak dibatasi sekat suku, ras maupun agama--mo dari Jawa kek, Sumatra kek, Badui kek, planet Mars kek, silsilah demografis itu bukan halangan dalam berinteraksi. Asal tau, crew SID yang ada di Pulau Jawa asal mulanya adalah sohib-sohib SID yang lalu direkrut jadi crew. Mau bukti tambahan? Coba sekali-sekali main ke Poppies, tempat kita ngumpul.

Pernah denger istilah "melting pot", kan? (bagi yang belum tau, melting pot = muara interaksi multilateral; wadah asimilasi berbagai varian ras, suku, agama) Nah, Twice/Suicide Glam di Poppies Lane 2 tempat kita hang out tsb ya memang merupakan muara tempat bergaulnya bukan cuma antara Jawa+Bali+Sumatra+Sulawesi+daerah Indonesia lain, malah dengan skala lebih lebar yaitu mencakup berbagai suku bangsa. Jika SID memang punya sifat Xenophobic (anti orang asing), ndak mungkin dong tempat hang out kita bisa sampe sebegitu "Bhineka Tunggal Ika". Atau kalo mo saksi hidup, coba hubungi majalah Hai, Kawanku, Poster, MTV Trax, mantan anggota Puppen, vokalis Fable, manajer Superglad, Rebek, atau siapa saja yang memang benar-benar pernah ke Twice/Suicide Glam.

Tanyain mereka satu hal, "Apa bener SID anti Jawa?". Mereka pasti jawab, "Ke laut aja lu!"
Next question, please? We got fed up replying this stupid gossip!

Q : Oleh beberapa orang SID dianggap tak layak mendapat award. Mereka bilang derajat musikalitas SID jauh dari istimewa. SID juga tak mengerti sound...??
A : Apa kita berbicara prog-rock di sini? Hey, kita tak bicara presisi di sini. SID adalah band Punk Rock. Punk Rock itu musik tiga jurus (baca: sederhana). Selebihnya "attitude-heavy" alias kolosal mengedepankan attitude. Gak semata tentang musik an sich. Dan SID sejatinya gak banyak berubah. Baik dari elemen musikal maupun prilaku. Sejak jaman indie hingga kini. Ketika Bobby menyanyi kadang masih suka kepleset alias fals. Jerinx--terutama kalo kebanyakan minum bir--sesekali suka lengah menjaga tempo. Eka giliran asyik jejingkrakan suka lupa menjalankan tugasnya sebagai vokal latar.

Buat kami hal macam begitu bukan aib. Tapi itu adalah SID yang asli. Kami tentu saja berusaha tampil maksimal. Tapi gak terlalu ngoyo agar show jadi amat sempurna. Kami biarkan aspek manusiawi tetap mengambil peran di situ. That's what Punk Rock is about. Look how Sex Pistols were. They didn't even know how to play. We are not Sex Pistols. But we truly agree with the whole concept of Punk Rock that they once invented. Furthermore, saat mempromosikan pertunjukan pun yang SID muntahkan ke publik justru propaganda yang tak mengungkapkan seberapa hebat SID, justru sebaliknya. Contoh:


##########


Um, we ain't talkin' about sophisticated, exotically structured, top-notch music here.


Hell no.


We're talkin' more about:

Unschooled, slick-as-hell Punk pagans

Young urban noise purists with untrained ears, untrained skills


Avid beer-drinkin' socio-cultural

Maximum Rock 'N Roll energy

Adrenalin OD gig


and

F**k-you attitude"


##########


***Diambil dari promo acara "Black Heart: Tales From Goth-Punk Suburbia", 13 Februari 2003.

***Propaganda ini dibuat oleh SID sendiri.

Nah, bagaimana, apa ada SID nyebut diri sakti mandraguna? Iya, coba perhatikan saja kalimat "we ain't talkin' about sophisticated, exotically structured, top-notch music here" dan kata-kata "untrained skills" dus "f**k you attitude" di situ. Salah besar jika Anda berharap dari SID akan mendapatkan pertunjukan "sempurna" layaknya band-band ternama Indonesia.

Begitu juga tentang sound, SID selalu jujur bilang ke soundman kita (Albert, Yoni, atau Dera) juga ke orang lain (paling gampang tanyain Wendi atau Felix deh) bahwa kita ndak ngerti sound dan kita masih belajar (perhatikan propaganda "Black Heart" utamanya kata-kata "untrained ears" dan "f**k you attitude"). Makanya jika orang lain lantang berteriak bahwa SID ndak ngerti sound pasti kita bakal terus terang bilang, "Iya nih, kita memang masih belajar ttg sound". Cuman, berkaca dari pengalaman, yang seru adalah saat kita main di acara Puma Street Games di Senayan, September 2002--waktu itu masih indie. Oh Sid Vicious Yang Maha Esa, penonton kelojotan moshing seanjing-anjingnya saat SID beraksi di panggung! Padahal, man, jangan tanya seberapa buruk mutu suara yang muncrat dari sound system. Jangan tanya seberapa kacau balau tempo permainan SID waktu itu. Tapi coba liat reaksi penonton, total beautiful chaos! They didn' give a flying f**k about sound system Cap Go Meh. And it really made The Almighty Sid Vicious cracking up his big Punkrock-ish smile. Nah, kawan, fenomena apa ini?

Antiklimaksnya, kenapa saat SID sign up sama major (5 bulan setelah Puma Street Games) tiba-tiba ekspektasi publik kepada SID langsung melonjak hebat lalu berharap mendapatkan sesuatu yang "sempurna"? Lucu, bukan? Coba, apa bisa kita ngerti sound cuma dalam rentang 5 bulan? Apa bisa bermusik "sempurna" dalam hitungan 5 bulan? Mustahil dong. Tapi tenang aja, kawan, SID tentu akan terus belajar memahami sound dan bergiat belajar bermusik. Makin ke depan semoga makin jago main musik. Selebihnya yang musti diingat di sini adalah pengetahuan ttg sound atau kemampuan menguasai instrumen yang mumpuni bukanlah satu-satunya faktor utk mampu "mencuri" perhatian publik. Ada banyak faktor yang saling berkaitan. Jadi yang penting diketahui: SID ya emang kayak begini ini. Dalam konteks musikal, sudah sedikit lebih baik dibanding saat manggung di Puma Street Games, September 2002. Jika punya ekspektasi yang lebih dari bagaimana SID sekarang ini, jika ingin melihat band yang secara musikal tanpa cacat, kami sarankan Anda mulai memutar Dream Theater saja di stereo Anda. Jika masih belum puas, hubungi segera Sony Music Indonesia serta ofensif protes ke mereka: "Kok sign up SID sih? SID itu band jelek!" setelah itu tawarkan band Anda ke mereka. Mari sama-sama tunggu reaksi Sony seperti apa. Adil, bukan?

Sekarang tentang award yang diberikan kepada SID. Perlu dipahami, SID ndak pernah yang namanya mendaftarkan diri agar dicalonkan dalam award-award tsb. SID juga ndak pernah menghasut penggemar SID agar kirim SMS ke MTV Award atau juri AMI Award biar SID menang. Tau-tau aja SID menang di ke-2 award tsb tanpa SID sumbang andil sama sekali. Barangkali penggemar SID yang pro-aktif voting untuk SID (dan untuk itu SID besar terima kasih pada fans atas segala susah payahnya). Dari SID sendiri award itu tak membuktikan apa-apa. Sebab mendapatkan award bukanlah tujuan bermusik SID. Maka itu, yup, SID gak pernah dateng ke award-award tsb. Jika orang lain menganggap award itu penting, silakan, ini negara bebas, do whatever you feel like. SID ndak terlalu ambil peduli dengan award Cap Go Meh.


Q : SID band OKB (Orang Kaya Baru)?
A : Ha ha... pernah main ke Bali dan ngeliat langsung keseharian personel SID? Bobby itu rumahnya di gang dan gak punya motor. Eka itu tinggal di kos-kosan bareng istri dan bayinya. Jerinx sendiri tak bisa dikategorikan borju. Doi cuma kelas menengah. Eh, kalopun ke depannya nanti SID jadi band kaya apa gak boleh? Band Punk Rock dilarang hidup sejahtera? Buat SID mencapai tingkat hidup yang lebih memadai bukan hal haram asal saja tak melenceng dari garis idealisme yang dianut selama ini.

Sejujurnya, SID bosen miskin he he... Next question, please!

Q : Pendapat SID tentang kaos yang banyak dijual di lapak-lapak seperti "Fuck SID", "Superman Is Dead Is Dead"?
A : Biasa aja. Siapa pun berhak mengekspresikan apa yang ada di hatinya. Bahkan si Eka (bassist SID) ikutan beli baju "Fuck SID" dan dipakainya manggung di Senayan seraya tak lupa bilang, "You say fuck you, we say thank you!" (di kesempatan manggung berikutnya--juga di Senayan--penggemar SID malah ikutan make kaos yang kayak dipake Eka! He he...).

Hanya yang agak mengganggu dan tak adil di sini, ekspresi ketidaksukaan ini kok justru dibisniskan. Selain kepentingannya sudah bias, bukankah itu sama dengan "menari di atas penderitaan orang lain"?

Q : Kok Punk Rock glamour?
A : Huh? Look, acuan kita dalam berbusana adalah band macam AFI juga Stray Cats, Living End, Supersuckers, Reverend Horton Heat, Rocket From The Crypt, dan band-band Rockabilly lainnya. Acuan SID lebih ke Punk Rock Amerika yang lebih kental nuansa Rock 'N Rollnya.

Pula cenderung non-politikal. Lebih mengedepankan fun. Iya, apa Punk Rock harus jarang mandi? Apa Punk Rock harus stereotype seperti Punk Rocker yang banyak bertebaran di King's Road, London? Kenapa tiba-tiba ada kata "harus" di wilayah Punk Rock yang notabene esensi hakiki Punk Rock adalah menjadi manusia bebas merdeka? Heran, Punk Rock kok banyak peraturan ya...?

Q Tarif SID mahal!
A : Tarif SID sekarang 10 juta. Dan itu hanya berlaku untuk acara komersial, dengan sponsor besar. Jika konser yang dibikin oleh mahasiswa atau bersifat DIY, SID rela dibayar seadanya bahkan gak dibayar (lucu ya, di Indonesia ini jika band main gak dibayar berarti band tsb cool, anti kapitalis, merakyat, dsb. Padahal kalo bener-bener mo hidup dari musik mana bisa sih terus-terusan bertahan hidup dengan tengkyu?).

Waktu SID main utk acara anak Mpu Tantular, Moestopo, Unpar, dsb, SID hanya dibayar sekedarnya aja. Malah saat main di Buqiet Cafe - Bandung SID gak dibayar sama sekali. Dikasih bir dingin doang. Nah, apakah itu sebuah prestasi? SID = band ultra cool karna rela gak dibayar?

Q Tiket pertunjukan SID mahal!
A : Ah, kita juga bingung orang-orang itu maunya apa. Saat main di Jogja dengan tiket Rp 20 ribu dibilang kemahalan. Dikasih Rp 7,500 bikin rusuh. Digratisin, rusuh juga. Bilangnya tiket Rp 10 ribu kemahalan tapi beli Vodka 2 botol kok mampu? Phew.

Q : SID band sombong?
A : Punya pertanyaan lain yang lebih berbobot? Males banget jika persoalannya melulu interpretasi. Pak Raden misalnya, secara visual pasti kita berpikir bahwa doi orangnya galak dan/atau angkuh. Padahal belum tentu kan? Udah ah, males ngerespons yang kayak ginian. Lagian udah panjang lebar diskusi kita. Sudah sampai di sini aja ya!



---Berikut adalah beberapa komentar dari pihak lain---

>>> DENNY SIHOTANG <<<

LIVE SID di Medan
SUPERMAN IS DEAD, DEAD, DEAD !!!

Terlepas dari prestasi SID mendapatkan predikat artis Pendatang Terbaik AMI Award, aku mau cerita sedikit soal penampilan mereka di Medan, Selasa 7 Oktober lalu di areal Pendopo Kampus USU Medan.

Malam itu SID tampil menjadi guest star di depan sekitar 7000 an audience. Kenapa bisa demikian ramai? Boleh jadi karena even gratisan. Tapi boleh jadi juga karena nama besar SID itu sendiri. Penonton yang hadir juga beranekaragam, dari cewe-cewe wangi dan kece, abege-abege, sampai pada segelintir orang yang emang mengerti musik. Terlepas dari itu semua, rasa penasaran pengen liat live nya SID aku rasa yang membuat penonton berjubel.

Dibuka dengan teriakan Horasss Medan, tanpa basa-basi, SID langsung menggeber dengan sebuah lagu yang aku tak tau pasti judulnya, tapi pasti berasal dari album bad... bad... bad... sayangnya, baru hitungan ke 30 soundsystem ngadat karena daya listrik kurang (kali aja). Buktinya, gak lama kemudian listrik hidup lagi. Sayangnya, SID langsung
maen geber aja, langsung ganti lagu, bukannya mengulang lagu yang pertama mereka mainkan.

Rumor bakalan adanya serangan terhadap gigs SID ini ternyata bukan hanya isapan jempol. Memasuki tengah lagu kedua, aneka sumpah serapah mulai nyaring terdengar. Kata-kata makian yang ditujukan ke si PUNK ROCK STAR semakin menjadi. Lemparan aneka benda berbahaya (air kencing dalam botol air mineral, sendal, batu, bambu panjang, sampai pada tai... yang ini belum diketahui kebenarannya, bisa jadi hanya sekedar lumpur. cuma karena udah gelap, orang bisa menyangka sebagai kotoran manusia). Malah, ada beberapa penonton bekerjasama menggendong seorang temannya, dan saat si teman di atas dia langsung membuka resleting celananya dan (maaf) menunjukkan kemaluannya sambil berteriak : ini sama kalian!. Ampun deehh...

Memasuki lagu ketiga, serangan bukannya mereda, malah semakin menjadi. Bambu panjang yang sebelumnya digunakan sebagai tiang ikatan umbul-umbul sponsor semakin banyak berterbangan ke stage. Sampai-sampai personil SID mesti goyang sana-sini untuk menghindar. Sayangnya, entah karena tertekan (atau memang kualitas cuma segitu...?) permainan SID makin gak menentu arah. Beberapa kali tempo musik yang mereka mainkan kejar-kejaran. Plus, soundsystem yang mati-idup beberapa kali. Penonton makin brutal dan chaos semakin jadi. Tak hanya SID, panitia yang di depan stage juga kena makian dan ludah penonton.

Usai lagu keenam (kalau tak salah kira), tanpa basa-basi SID ngabur kebelakang panggung. Rupanya penonton yang kontra dengan mereka sudah mengantisipasinya dan langsung menguber sang PUNK ROCK STAR ke belakang panggung. Aku sempat melihat seorang penonton, berambut gondrong dan sedikit emosi mengejar kerumunan personil SID dan security panitia. Si gondrong aku lihat sempat menghadiahkan sebuah bogem mentah (sayangnya aku gak tau siapa yang mendapat hadiah tak diharapkan itu, entah personil SID atau panitia). Mobil tumpangan mereka juga dipukul-pukul dari luar.

Begitu SID menghilang, panitia yang sebelumnya cukup banyak itu juga menghilang. Stage ditinggalkan dalam keadaan kosong. Mereka cuma berani memantau dari kejauhan.

Sesudahnya, kubu yang pro dan kontra SID kemudian membuat koalisi. Kelihatannya mereka kecewa berat dengan live SID malam itu. Dari kubu pro, boleh jadi mereka tidak puas menonton pujaan mereka sambil
bermoshing ria. Sedangkan dari kubu yang kontra, boleh jadi mereka belum puas melampiaskan emosi dan marah mereka.

Karena minim pengamanan (tak satupun keliatan aparat kepolisian ataupun TNI, mungkin karena di dalam kampus) penonton semakin brutal. Umbul-umbul yang berdiri di sisi kiri dan kanan jalan dibakari. Beberapa spanduk di depan stage juga dicopoti dan dibakari.

Untunglah audience tidak terpancing semakin jauh. Walau samar-samar masih terdengar teriakan-teriakan : ayo kita kejar mereka ke Sumatera Village, sebuah resort sekitar 15 km dari lokasi pentas, tempat SID menginap. Aku sendiri gak tau pasti, apakah mereka memang benar-benar mengejar sampai kesana malam itu.

Seiring waktu berjalan, audience sepertinya baru tersadar kalau pesta sudah usai. Satu persatu mulai beringsut pulang. Api yang sempat berkobar pelan-pelan juga mulai padam. Sekitar 2 jam kemudian, patroli polisi memasuki lokasi kampus, mengawal kru panitia mengemasi stage dan soundsystem.

Bagaimana dengan SID? Apa yang ada dalam pikiran mereka? Apa opini mereka soal audiece Medan? Soalnya lemparan kali ini berbeda dengan "lemparan khas" penonton Medan yang berarti salut, atau angkat tangan kepada permainan sebuah band. Lemparan mereka kepada SID malam itu memang benar-benar menunjukkan kalau mereka
tidak suka, benci, dan dendam. Entah karena apa. Aku gak tau pasti. Yang pasti, pro dan kontra itu dimana-mana selalu ada. Tapi apakah PUNK itu mesti brutal, chaos, dan DEAD???

Malam ini (Rabu, 8 Oktober 2003) mereka akan manggung di Jogja bareng Endank Soekamti dan beberapa band lain. Bagaimana dengan audience Jogja? Mohon kabar dong...? Bad... Bad... Bad... Sad... Sad...
Sad...

salam damai,
Denny Sitohang
mteens magazine, medan


----------------------------------------------------------------

>>> ALIENUX <<<

sound system ngadat memang benar dan itu disebabkan kurangnya daya listrik serangan 2 terhadap SID yang memang udah di persiapkan oleh orang orang yang kontra terhadap SID (menyebarkankan pamflet saingan untuk memboikot gigs tersebut Para personil SID mengetahui hal itu tapi tidak meruntuhkan semangat mereka untuk tetap bermain di medan pada saat itu dan akan datang.).

penonton yang melakukan kekekrasan hanya berkisar 20-30 orang punkers yang tidak mengerti punk yang berada di sisi panggung sebelah kiri namun mereka terus memprovokasi cara kekarasan bahkan dari beberapa panitia dan crew SID ikut terkena lemparan walaupun tidak menibulkan korban luka,tidak adanya aparat kepolisian di gigs tersebut di
karenakan otonami kampus yang tidak memungkin kan adanya polisi.

SID berhenti karena stage manager dari panitia yang meminta untuk segera menghentikan aksi panggung mereka
karena panitia melihat bahwa lemparan lemparan dari segelintir orang itu sudah membahayakan

tidak ada yang mengejar sid ke tempat mereka menginap di sumatra village yang ada hanya band band pendukung
gigs tersebut yag datang bertamu dan nongkrong bareng dengan SID .bagi SID kejadian ini tidak akan membuat mereka jera untuk main lagi di medan bahkan meraka berkata kami cinta medan maka kami akan tetap tampil lagi di medan bung !!!


konfirmed by ALIENUX yang berada langsung di atas panggung dan merasakan langsung lemparan batu penonton

cheers, beers punkrock in your ears


--------------------------------------------------------------------


>>> FELIX <<<

"We just loved to play and didn't care about anything
else. It was very surreal, being wandering around,
being part of this big circus."
(Chris Joannou - Bass Player of Silverchair. Courtesy
of Tomorrow Never Knows, The Silverchair Story,
written by: Jeff Apter, Coulomb Communications 2003)

Waktu itu, hari beranjak larut. Sekitar pukul 10 malam. Waktunya untuk pulang ke rumah. Mengakhiri
hari. Tapi, ada satu keinginan tertinggal, pergi ke warnet. Cek email sebentar, browsing beberapa gambar
aneh untuk kepentingan bisnis, dan menghabiskan waktu seraya menunggu mata kehilangan kekuatannya.

Setelah di warnet, mulai membuka satu demi satu tujuan semula, ada sebuah surat yang masih sangat-sangat
segar masuk ke salah satu mailing list yang saya ikuti. Tajuk surat itu lumayan menggugah saya untuk
membukanya dengan segera. Saya lupa persisnya seperti apa, tapi isinya tentang salah satu band lokal yang
berhasil mencuri rasa kagum yang terdapat di dalam diri ini, Superman Is Dead.

Tanpa pikir panjang, saya buka email itu. Pengirimnya, saya masih ingat, Wendi. Seorang kritikus musik,
seorang metalhead lokal kelas atas (yeah, ini cuma penafsiran dari masa lalu di dunia maya), dan seorang
yang sangat dihargai di scene lokal Indonesia. Satu demi satu baris terpampang dalam waktu yang tidak
terlampau lama. Setelah lengkap, saya mulai membacanya.

Cerita yang dikirim Wendi merupakan forwarded email dari sebuah milis lain, kebetulan saya juga menjadi anggotanya. Tapi, entah kenapa saya tidak membuka milis tersebut malam itu. Cerita yang disuguhkan merupakan semacam laporan aksi panggung Superman Is Dead di Medan.

Perjalanan membaca dari satu baris menuju baris berikutnya sangatlah tidak nyaman. Dikisahkan di sana,Superman Is Dead mendapatkan perlakuan yang sangat tidak layak dari publik Medan. Mereka memang mendapatkan lemparan khas orang Medan (konon, orang Medan biasa melempari artis musik yang dianggap penampilannya bagus. Entahlah, saya belum pernah menyaksikannya langsung). Tapi kali ini, bukanlah lemparan tanda salut yang mereka biasa lakukan. Tapi lemparan tanda penghinaan. Lemparan tanda benci. Lemparan tanda nggak suka.

Dikisahkan satu demi satu spanduk beterbangan ke arah panggung. Bahkan di dalamnya ditulis juga mungkin
kotoran manusia ikut terbang menuju ke arah mereka. Akhirnya Superman Is Dead mengakhiri penampilan mereka
pada lagu ke enam. Ditulis di situ, mereka memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan repertoir karena
keadaannya memang sudah sangat tidak memungkinkan untuk melanjutkan pertunjukkan. Tapi kemarahan
penonton tidak reda. Mereka masih berusaha untuk mengejar Superman Is Dead ke belakang panggung. Aura
kekerasan sudah sangat membumbung tinggi waktu itu. Setelah melalui keadaan chaos yang sudah semakin tidak
terkendali di venue, rombongan Superman Is Dead berhasil menyelamatkan diri keluar dari venue. Tapi,
masih menurut cerita itu, penonton masih tidak puas. Mereka mulai meneriakkan agar mereka dikejar terus
sampai ke penginapan. Untung, pada akhirnya hal ini tidak terjadi.

Cerita pertama berakhir di sini. Saya terperanjat begitu cerita ini sampai di bagian akhir. Tidak
percaya. Kecewa. Nggak bisa terima. Wah, campur aduk rasanya perasaan saya waktu itu. Tanpa pikir panjang,
saya langsung mengambil ponsel di tas dan mengirim sebuah pesan singkat ke sebuah nomor ponsel
+62817978XXXX, begini bunyinya:

Dude, just read a fwded email from Wendi in SG
groups.. Did u have a very fucking bad gig in Medan?
The Story was so spooky. You have to see it asap.
Cheerio..

Itu adalah salah satu nomor ponsel Rudolf Dethu, manajer Superman Is Dead. Malam itu, mereka juga punya
sebuah jadwal di Yogyakarta. Ia tidak membalas. Saya pulang ke rumah. Sekitar pukul 1 dinihari saya
mematikan ponsel saya. Sudah saatnya tidur.

Paginya, saya bangun sekitar pukul 10 pagi. Begitu saya aktifkan kembali ponsel saya, sebuah sms masuk.
Waktu pengirimannya 02:09:35. Sang pengirim: Dethu. Ini balasan sms saya semalam. Begini bunyinya:

Bkn cuma Medan. Jogja juga rusuh. Sudah takdir SID he
he... Tapi di Jogja klimaksnya bagus krn SID berdiri
tegak menantang! Don't worry, dude.We ain't gonna give
up!

Saya kaget. For god sake, they've faced two nights in a row with some bloody bastard that ruined their gigs. What the fuck??? Saya langsung membalas sms itu.

Wow. It must be a hard time 2 face 2 nights in a row with some chaos. Btw, i think u have to pass along this news. Some clarification, maybe. Be strong, man..

Singkat cerita, saya mendapat kabar yang sama sekali tidak mengenakan itu di pagi hari dan jujur, dari lubuk hati yang paling dalam, sebagai seorangpenggemar saya marah. Tidak pernah bisa menerima apa yang dilakukan para perusuh itu pada salah satu band yang saya gilai.

Sekitar pukul 4 sore, ponsel saya berdering, tertera Dethu yang memanggil. Saya angkat. Kita ngobrol. Ia menanyakan apa saja yang tertulis di email itu. Dia juga bercerita tentang pertunjukkan di Yogya. Hal yang
hampir sama terjadi kembali. Dethu mengisahkan bahwa mereka memang dilempari. Bahkan Bobby pun sempat
mendapat bogem mentah dari penonton, walaupun tidak keras. Tapi, ironisnya pada akhir pertunjukkan seorang
tokoh punk lokal yang cukup disegani -salah seorang teman Jerink juga-, namanya Burhan datang menghampiri
mereka di belakang panggung. Burhan mengklarifikasi bahwa yang melakukan kekacauan itu bukanlah bagian
dari anak punk Yogyakarta. Burhan mengaku tidak tahu siapa yang melakukan itu. Yang jelas, bukan komunitas
punk Yogya.

Lantas saya bertanya pada Dethu, "Elo tau nggak sih apa yang sebenernya salah pada diri kalian?" Dia menjawab, "Nggak. Nggak jelas kenapa kita diginiin." Saya sudah menduga alasan itu yang akan keluar dari
mulut dia. Sepanjang pembicaraan selama hampir 5 menit itu, saya cuma bisa berkata: "Anjing!" selama beberapa
kali menyusul rasa panas saya pada cerita Dethu tentang perlakuan penonton pada Superman Is Dead. Saya
hanya bisa menggolontorkan ide untuk membuat sebuah t-shirt bertuliskan 100% Superman Is Dead. Sederhana.

***


Perkenalan langsung saya dengan band ini dimulai sekitar awal tahun 2002. Sebelumnya yang saya dengar hanya beberapa rilisan mereka yang tidak pernah saya dapatkan. Waktu itu, saya mendapat kabar bahwa mereka akan merilis sebuah EP (kemudian akan menjadi EP fenomenal mereka, Bad Bad Bad) yang merupakan rilisan penuh mereka yang ketiga. Pertangahan tahun, saya pergi ke Bali. Liburan. Saya memaksakan diri untuk datang ke Poppies Lane 2, markas mereka. Tujuannya:membeli kaos Superman Is Dead dan EP Bad Bad Bad. Dan, saya mendapatkannya. Saya ingat, waktu itu kopi terakhir yang ada di Twice Tape (toko rekaman milik Jerink) adalah kopi yang saya pegang sampai hari ini.Waktu itu, semua personil Superman Is Dead kebetulan ada di tempat itu dan sang kasir menawarkan tanda tangan semua personil di CD yang saya beli. Saya pikir, "Kenapa tidak?" Akhirnya saya kembali ke hotel, memutar CD tersebut di CD player saya dan...terkagum-kagum.

Persentuhan kedua terjadi ketika band ini manggung di Jakarta akhir tahun 2002. Kebetulan saya juga mendapat
sebuah tugas dari tempat saya bekerja untuk menulis tentang mereka. Saya harus menjalin komunikasi dengan
Dethu sebelum datang dan mewawancarai mereka. Wawancara itu sendiri berjalan mulus. Saya membeli
lagi sebuah kaos Superman Is Dead dengan harga khusus dan memenuhi undangan Dethu untuk datang ke kamar
hotel Bobby yang tidak jauh dari venue pertunjukkan. Kami berjalan kaki. Berdua. Ia bercerita tentang banyak hal. Terutama tentang kiprah Superman Is Dead. Hari itu berakhir ketika saya memutuskan untuk pergi
ke sebuah tempat lain. Saya menutupnya dengan sebuah sloki peletokan (entah apa saja campurannya) dalam
botol Red Label.

Setelah itu, saya hanya berkomunikasi dengan mereka lewat email. Tidak lebih. Hal yang paling prestisius adalah ketika sebuah email masuk ke inbox saya. Isinya sebuah konfirmasi bahwa mereka akan bekerja sama dengan sebuah mayor label lokal berskala internasional untuk 6 album ke depan. Ada sebuah hal yang jauh lebih membanggakan lagi, mereka mendapatkan kontrak ini tanpa sebuah penjajahan. Jadi, murni kerja sama. Bukan
terdapat sebuah struktur hirarki majikan dan bawahan. Superman Is Dead mendapatkan sebuah kontrak yang
sangat besar artinya untuk band yang berangkat dari bawah seperti mereka. Hebatnya pihak label yang mau
mengejar mereka. Superman Is Dead tidak pernah mengirimkan sekopi pun rekaman atau demo mereka. Si
produserlah yang mati-matian meyakinkan mereka agar mau bekerja sama.

Lalu hal yang paling spektakuler pun terjadi. Mereka berhasil memaksa pihak label untuk menuruti keinginan
mereka yang bersikeras tetap menggunakan lirik-lirik berbahasa asing di sebagian besar lagunya. Sepanjang
pengetahuan saya, hanya Pas Band yang berhasil melakukan hal itu di album kedua mereka In (No) Sensation.

Setelah itu, satu demi satu hal mencengangkan masuk kedua telinga saya. Mulai dari artwork album yang sangat
bebas dan sepenuhnya dikerjakan oleh pihak Superman Is Dead hingga ke video klip yang dibuat salah satu
sutradara lokal Bali. Buat saya, itu adalah sebuah prestasi yang sama sekali susah untuk didapat sebuah
band lokal yang baru pertama kali berbaju label mayor.

Superman Is Dead punya konsep. Mereka punya sebuah posisi tawar yang sejajar dengan sang label. Jerink
suatu kali pernah berkata bahwa mereka tidak menganggap sebuah masalah jika harus merilis album
dengan tangan sendiri lagi. Tapi, tidak juga menutup sebuah kerja sama dengan label mayor. Itulah yang
tidak banyak diketahui orang. Mereka memulainya dengan sebuah konsep musik yang jelas, sebuah positioning
yang bagus, dan tentunya attitude yang bagus.Tapi semuanya seolah berputar terbalik ketika album baru mereka resmi dirilis ke pasaran. Awalnya beberapa kolega mengkritik kualitas rekaman yang cenderung terdengar pop dan akan jauh lebih baik jika mereka mengerjakannya sendiri di kampung halaman dengan studio jelek. Bukan studio maha mutakhir milik label. Mereka menerimanya. Toh, itu namanya kritik. Bukan penjelekkan. Bagaimana juga, kritikan paling bagusmemang datang dari teman. Mereka akan obyektif menilai sebuah karya. Karena memang semuanya murni, tanpa pretensi macam-macam.

Superman Is Dead menyadari kekurang sempurnaan yang mereka miliki dalam rekaman Kuta Rock City. Kalau
secara materi album, tidak banyak yang berkomentar. Soalnya, lebih dari setengah lagu di album ini adalah
lagu-lagu lama yang sudah pernah dirilis sebelumnya.

Kelar dari kecaman keras beberapa kolega yang menyerang kualitas album mereka, Superman Is Dead mulai menghadapi sebuah tantangan yang besar. Oleh karena publisitas yang sangat besar (diawali ketika mereka terpilih menjadi MTV Eksklusif artist bulan Juli), kiprah band ini pun semakin tersorot oleh media secara luas. Penggemar-penggemar baru pun mulai bermunculan. Kebetulan mereka memainkan musik Punk yang sedang tersedot habis oleh tangan tidak kasat mata bernama Tren. Jadilah Superman Is Dead sebuah ikon punk lokal yang paling menonjol menurut penggemar baru tersebut. Padahal pada kenyataannya tidak ada satu pun ikon punk yang menonjol. Tidak ada satupun yang lebih hebat dari yang lainnya.Di sisi lain, orang-orang dari scene tempat mereka berasal mulai gerah. Beberapa dari mereka merasa Superman Is Dead telah melacurkan sebuah agama bernama Punk kepada sebuah label mayor yang kemudian menjadikan mereka mesin kapitalis. Mesin pengeruk uang. Padahal, mereka sama sekali kekurangan informasi yang baik, proporsional, tepat, layak, dan benar
tentang kiprah band ini.

Mulailah muncul satu demi satu anggapan bahwa Superman
Is Dead adalah budak kapitalis dengan bergabung dengan
mayor label. Superman Is Dead bukan punk lantaran
bersedia bergabung dan menjadi sebuah bagian dari
mayor label dan industri musik mainstream. Superman Is
Dead bukan underground lagi. Superman Is Dead cuma
cari uang. Superman Is Dead menjual punk pada
masyarakat kapitalistik Indonesia. Bla, bla, bla...
Hal ini seolah semakin terakomodir begitu situs mereka
www.supermanisdead.net resmi dibuka. Lama kelamaan
message board dan guest book mereka menjadi tempat
sampah bagi sebuah perang yang tidak jelas antara
pendukung dan pembenci mereka.

Pada awalnya, manajemen band ini berusaha untuk
menanggapi satu demi satu keluhan yang masuk. Termasuk
menjual konsep freedom to speech dan freedom to act.
Dethu dan Ade Putri berusaha melayani semua keluhan
yang masuk ke telinga mereka. Tentunya juga berusaha
untuk mengklarifikasi setiap tuduhan yang masuk ke
tubuh Superman Is Dead. Berusaha meluruskan
fakta-fakta yang terdistorsi entah berapa ratus
persen.

Tapi usaha itu sama sekali tidak berhasil. Ibaratnya,
mereka berdua hanya menabur garam di lautan luas.
Pihak-pihak yang merasa punya hak untuk menjadi hakim
tanpa status berusaha untuk menjatuhkan Superman Is
Dead. Mereka tidak goyah. Dethu dan Ade Putri memang
telah mengurangi serangan balik mereka terhadap para
penyerang. Tapi tidak dengan usaha ekstra keras mereka
untuk tetap menjadi punkers-punkers sejati.

Bagi orang-orang seperti saya yang sudah menjadi
penggemar mereka sejak mereka belum menjadi seperti
sekarang ini tentunya sangat sedih. Ketika ratusan
bahkan ribuan orang menuduh mereka berubah, menjadi
tidak underground lagi, dan berbagai tuduhan miring
lainnya, seolah-olah mereka tidak lebih dari penjahat
paling kejam. Kejahatannya: menjual Punk!

***


Banyak orang tidak mengerti secara pasti bagaimana
kelakuan sebuah konspirasi bernama Superman Is Dead
ini. Sudah terlalu banyak bukti yang bisa dikedepankan
untuk menjawab berbagai macam tuduhan yang mampir ke
Superman Is Dead. Tapi sayang, kesempatan tidak pernah
mampir juga untuk mereka menjelaskan semuanya. Saya
sendiri punya berbagai macam memori tentang mereka
yang berhasil menancapakn sebuah state of mind bahwa
mereka adalah teman, idola, dan partner.

Coba saja seandainya orang banyak tahu berapa banyak
orang yang masuk dalam guest list mereka setiap
manggung. Berapa banyak uang tambahan yang harus
keluar dari kantong mereka hanya sekedar untuk beli
bir tambahan karena jatah bir dalam riders
pertunjukkan mereka sudah habis. Bagaimana mereka
menjual kaos dengan harga murah lantaran tidak enak
hati kepada teman. Bagaimana marahnya mereka ketika
tahu panitia Clear Top Ten Award menaruh segerombolan
penari bodoh untuk mendukung penampilan mereka tempo
hari (akibatnya mungkin kerasnya muka Bobby ketika
berteriak lagu ini untuk Cheerleader yang ingin jadi
Punk Rock Star sembari menunjukkan telunjuknya ke arah
mereka). Masih banyak lagi bukti yang pantas
dikedepankan untuk menjadikan mereka kontra dengan
berbagai tuduhan itu.

Makin jelas, mereka yang mencela, menghina, berusaha
menghancurkan, menjatuhkan karakter Superman Is Dead
sama sekali bukan orang yang mengerti mereka dengan
baik dan benar. Bagi saya, dalam posisi seorang
penggemar, karakter mereka tidak akan pernah berubah.
Mereka masih orang-orang lama yang saya kenal sebelum
mereka menjadi jauh terkenal seperti sekarang ini.

Mungkin adalah sebuah hal yang sangat perlu jika suatu
saat mereka duduk bersama-sama di sebuah meja yang
sama dengan berbagai macam pihak yang mengecam tingkah
laku mereka yang terstigma dalam sebuah cap negatif
produksi omong kosong pinggir jalan. Duduk bersama,
ngobrol bagaimana punk itu seharusnya, bagaimana
menjadi pemusik yang baik dan benar, kemudian
menggelar konfrensi pers bersama-sama apa akhirnya
pembicaraan itu. Tapi, akankah semua menjadi selesai
dengan begitu saja?

Saya pernah membayangkan, mungkin di dalam alam
pikirannya masing-masing, 4 orang anggota Superman Is
Dead (plus Dethu), pasti punya pemikiran sederhana.
Awalnya mereka memulai ini hanya untuk
bersenang-senang. Memainkan lagu-lagu mereka di depan
orang banyak. Dalam pandangan obyektif, yang mereka
lakukan adalah bermain musik, jadi mereka hanya pantas
disorot dalam segi musik. Tidak lebih. Selebihnya, itu
adalah masalah lain. Ketika menengok ke perkataan
Chris Joannou di atas, saya yakin ada di antara mereka
yang berpikiran seperti ini sekarang. We just loved to
play... Nggak lebih.

Felix.
Seorang penggemar, teman, partner bisnis Superman Is
Dead.



ekonomi membuat kami mendefinisikan otonomi pada mesin fotokopi





--------------------------------------------------------------------------------


>>> WENDI <<<
jujur, gue males banget ngomentarin ketololan-ketololan para patriot
punk yang berkelakuan fasis kayak gitu. Sangat mundurr...

topik major label, pengkhiantan g 30 s pki, bla bla bla juga
kontraproduktif. bukan sok naif, tapi sempetlah gue "berproses" kayak
gitu sebelomnya. cuma kayaknya kok hal begituan belom tuntas aja di
sebagian punk medan ama jogja. ini menurut gue, katakan kalo gue
salah.

di jakarta sendiri, patriot punk penolak sid juga banyak banget dan
gue tau pasti itu. beberapa godfather punk sini yg punya ribuan massa
pengikut loyal juga sempet diskusi dengan gue masalah sid-sid-an ini.
mereka ini udah puluhan tahun ngepunk di jalanan (1987+) dan sering
banget direpresi aparat hanya karena menjadi seorang punk. waktu itu
kita diskusi hot banget kayak film bokep. argumentasi pun tajam-tajam
kayak gelang spike. tapi semuanya kelar sampe disitu.......mereka gak
ambil pusing, asli gak ambil pusing......sid mo masuk major label,
kek, sid dapet award, kek, sid manggung ditonton 40.000 orang, kek.
bodo amat. mereka absen disitu.

sementara, di saat yang bersamaan dengan kejayaan sid, hidup mereka
tetap keras di jalanan dan tetap beroperasi secara diy. mereka sadar
dan mereka pun sangat waras kalo band mereka ain't going to be the
next big thing! band mereka tidak akan kemana-mana. dan ini adalah
PILIHAN mereka. malah ada yang udah jadi JALAN HIDUP segala. buat gue
inilah namanya KEDEWASAAN. respek bgt gue ama mereka. tetap setia
sampai akhir dalam keyakinan, tanpa harus repot-repot ngurusin
sesuatu yang udah jadi PILIHAN orang laen adalah sikap elegan.
intinya, mind your own fucking business ajalah!

lalu boikot pun bukan berarti datang ke konser sid untuk berkelakuan
kayak preman. boikot 'yang baik dan benar' adalah dengan tidak datang
ke konser sid! karena kalo datang, apalagi sampai berada di barisan
terdepan adalah FANS namanya. lho, lalu apa arti itu semua?

ternyata pemukulan, pelemparan, flying sources, eksibisi genital,
kata-kata kotor adalah sebuah aksi dan bentuk apresiasi yang
tergolong avant-garde belakangan ini. niscaya bakal menjadi trend
sepuluh tahun lagi. kasus ini sama halnya ketika dunia tercengang-
cengang melihat kebrutalan penonton di mosh pit sekitar dua puluh
tahun yang lalu. nah, sekarang jadi hal yang lumrah, kan? bahkan pak
warno, seorang polisi bogor pun bisa berkomentar "ah, itu mah tradisi
mereka" waktu asyik santei ngejagain sebuah konser metal di sana
tempo hari. ini bakal laen kalo konteksnya konser dangdut yang sangat
tipikal itu....."pusing saya," katanya. mungkin demikianlah
fenomenanya, sodara-sodara.

gue sendiri tahu sid sejak taon 96, sekitar setaon setelah mereka
terbentuk. waktu itu gue nonton konser mereka langsung di bali dalam
acara total uyut. moel, seorang scenester metal kugiran di sana
dengan bangganya menceritakan band ini scr berapi-api ke gue. waktu
itu masih meng-cover lagu orang (who didn't?) dengan dress-up
yang...duh! even jerinx sendiri sempet tersipu-sipu waktu gue
ceritain hal ini tempo hari. gue gak banyak komentar waktu itu ttg
sid ini. dalam hati gue, lu bisa temuin puluhan atawa mungkin ratusan
band yang kayak gini di jakarta dan bandung. ya, dalam situasi kayak
gitu under-estimate kadang2 perlu.....

sementara kita di jawa sibuk dengan scene masing-masing. sid juga
makin keras latian dan sibuk manggung sana-sini di seputaran bali.
menurut dethu, malah sempet ditonton tiga orang doang. itu udah
termasuk dia dan temen ceweknya yang jadi penggembira. jiing, berarti
penonton aslinya cuma satu orang doang!

singkat kata, singkat cerita. gosip tentang sid makin mengganas di
ibukota. mulai dari yang drummernya bule, konser di aussie, sampe
manggung bareng nofx dan social distortion di bali, semuanya mampir
di kuping gue. sial, sempet shock juga pas tau gosip ini ternyata
makin menggila dan berubah menjadi mitos. u know myths.....even
seorang malin kundang aja bisa jadi batu. wiii, mengerikan! tapi
begitulah adanya. band ini awalnya (buat anak-anak di jakarta atau
mungkin bagian lain pulau jawa) memang diBESARkan oleh mitos! makanya
jangan heran kalo ada gosip mereka rasis apalagi pernah sesumbar FUCK
JAVANESE, itu cuma MITOS!

di laen sisi, kehebatan sid dalam mengolah mitos menjadi sesuatu yang
berimplikasi positif bagi band juga mesti diacungin jempol. mungkin
mereka scr gak sengaja mengimplementasikan mitos organizing atau bisa
jadi mereka (dethu exactly) sangat aware dengan teori-teori
propaganda ala goebbels? who knows?

yang pasti, invasi yang dilakukan sid di ibukota udah berhasil.
karena sebelumnya, band bali mana selain eternal madness yang bisa
dikenal disini? dan itu pun masih terbatas di kalangan metalheads
doang. who's putting bali on the map? siapa yang memicu a&r label-
label rekaman major sini jadi pada bergenit-genit ria dengan band-
band bali? hahaha.....

gue gak suka kuta rock city (stupid major label record, very poor on
mixing), gue juga benci banget ngeliat mereka tiap kali manggung
jelek. tapi gue suka band ini. mereka udah bekerja keras banget untuk
bisa mencapai ini semua. ini mesti dihargai.

gue juga sangat yakin mereka udah paham semua konsekuensi dari
menceburkan diri ke dalam industri. industri yang melakukan
fabrikasi "melodic/pop punk" seperti saat ini. cuma ada satu hal
mengganjal, apakah semua ini akan menjadi "trend ska" selanjutnya
atau gimana?

jika ya, well, bersenang-senanglah, guys....your fifteen minutes of
fame, maybe couldn't last forever!


prove you right, prove 'em wrong......


inhale/exhale,


wenz


ps: felix, tulisan lo bagus tuh! enjoy it so much. minus semua
bullshit ttg gue pastinya. metalhead kelas atas? WTF?




--------------------------------------------------------------------

>>Arian Arifin<<

Duh.
That's why I'm not sure Rancid can play here, y'know what I mean? Punk tentu saja harus selalu menjadi sebuah 'threat', dalam pemikiran, bukan jadi 'threat' fisik. I don't know. gue sendiri sih prihatin kalau sikap chaos jadi membuat ketidaknyamanan individual atau banyak orang. Apalagi didasari oleh berita selentingan, a.k.a. gosip. Norak.

Sure SID is punk rock musically, kalau definisi punk non-punk sendiri siapa sih yang bisa ngejelasin? Sama dengan underground. Gue nggak tahu kalau ternyata memang ada buku panduan 'The Laws of the Underground:
Guide to A Perfect Underground Scene'. Uh. Seharusnya mereka baca ya? ^_^

Masalah major-non major, underground-non underground, buat gue udah basi banget, hohoho tentu saja bisa didiskusikan panjang lebar 4 hari 4 malam bahkan lebih. Kalau merasa SID memang, uh, 'membelot', ya sudah nggak usah beli albumnya atau nonton performancenya. Segampang itu kok. "Punk sudah dijual, sekarang ABG trendy aja udah pake gelang dan sabuk spike!" Awww. Get over it, it's soooo last 20 years! Punk sudah terjual sejak Ramones masuk Sire, Malcolm McLaren memperkenalkan Sex Pistols, MC5 dan Iggy Pop di Elektra. Kok baru ribut sekarang? Rancid dengan Warner, Green Day, Bad Religion, etc.

'Selling out', buat gue adalah melakukan hal-hal yang tidak disukai, tapi demi uang melakukannya. Gue pribadi sih nggak melihat SID melakukan hal tersebut. Tentu saja mereka sekarang jauh lebih bisa menghidupi kehidupannya scara album laku 70.000 kopi dan mungkin lebih. Dan nggak salah untuk bisa hidup dari sesuatu yang mereka sukai: main musik. Toh gue nggak pernah denger mereka berapi-api bilang: DIY or DIE! Aaww. In my opinion, punk is about being yourself in this manufactured, fabricated world, dare to be different, and questioning everything. [for instance, Green Day is as punk as Crass in a different way. Blink 182 and His Hero Is Gone. Dita Indahsari and even Garin Nugroho is a punk. So is MTV Jackass and No WTO Home Video.]. Busted, that boy band sure ain't punk.

Gue rasa juga banyak yang sirik kok ke SID. I know a lot of punk bands want to be in SID shoes, so they say bullshits about them. Gue inget betul pas SID dirusuhin di Surabaya, ada anak band lokal yang semangat ikut ngerusuhin. Dia vokalisnya. Pas gue tanya kenapa SID dirusuhin,whoaaaaa. Jawabannya banyak banget.

"Ada apa sih?"
"SID bilang fuck Java dulu!"
"Kapan?"
"Adalah! Mereka nulis 'fuck Java' di studionya?"
"Oh ya? Kok gue nggak pernah lihat ya? Lu sendiri udah pernah ke
studionya?"
"Umm, belum sih... tapi temen gue yang liat!"
"Oh, temen elo.. Trus?"
"Gue ditelfon Jopie dari Spills Records marah-marah, katanya SID ingkar
perjanjian dengan label indie Spills dan sign sama Sony!"
"Ditelfon Jopie?"
"Ya! Mereka nggak underground lagi dan memilih Sony!"
"Gue deket sama Jopie kok. Dia spesial nelfon elo? Gue nggak tahu lo
sedekat itu dengan Jopie. Dia malah nggak apa-apa SID merilis album
dengan Sony. Toh dengan Spills mereka memang cuman single saja."
"Ya pokoknya SID tuh ngaco!"
"Ngaco gimana?"
"Sok pake bahasa Inggris, belagu banget!"
"Uh.. kan mereka asalnya juga dari Bali, yang kepake kalo enggak bahasa
Bali ya bahasa Inggris... Bahasa Indonesia aja jarang!"
"Nah itu mereka suka ngomong 'fuck Java' pas manggung! Dikiranya kita
nggak ngerti apa? Anak anak Surabaya jadi marah!"
"Anak-anak Surabaya? Bukannya mereka baru main pertama kali di Surabaya
sekarang?"
"Ah! Pokoknya SID ngaco!"

Uh. Kurang lebih itu perbincangan saya. Sekarang, band Surabaya tersebut sign dengan EMI. Lucu juga setelah dia panjang lebar menceritakan bagaimana undergroundnya dia. Good for him. Lucu juga bagaimana sebuah gosip berkembang pesat dari hanya 1 mulut saja. Bagaimana sampai ke banyak orang? Udah distorsi banget kan. Lucu sekali kali kalau kebanyakan orang biasanya bicara tentang anti penindasan, sekarang menindas dalam bentuk baru.

Gue sepakat banget sama Wendi tentang 'mind your own business'. As long as you don't fuck other people to get your goals, it's allright. I don't think SID fucked people over to get where they stand now. Musically, gue
juga sepakat kala 'Kuta Rock City' nggak maksimal. Sayang soalnya. They still can develop though. Iwan Fals era '80an juga musiknya jelek, lirik mungkin tajam, tapi musiknya biasa banget.

Opini massa bisa membuktikan? Uh, kayaknya kalau demokrasi, kita memang belum siap. Sampai semua orang pinternya sama, gue pikir demokrasi nggak akan bisa jalan. Walaupun akan selalu saja orang yang lahir lebih pintar dan juga orang yang lahir bego.

Mind you, with my rants. Cheers n' beers!

arian arifin


--------------------------------------------------------------------------------


>>> SARAH FORBES <<<
Thanks for this, I too find this whole "hardcore, punk
rock" scene here ignorant, ridiculous and supremely
ironic. I don't like to add too much to an already
disgraceful situation but this week has been too much.

The alternative scene, in my opinion, should be a
stage, in the broad sense, for anyone who chooses to
express themselves freely, without stereotypes,
limitations, and most of all, rules. Assuming we are
all mature enough to be able to respect others and
express our opinions in a reasonable manner.

I know I'm in a biased position cause I'm a partner in
SG (and very 'close friends' with SID manager!!!!) but
reading through all the descriptions of events of the
past week, in Medan and Yogya, has made me both angry
and sad. I wish the youth in Indonesia could
recognise their true enemies (the political and
military status quo) and leave SID alone. Why don't
the band have the right to play what and how they want
to play? If you don't like it, don't come. In truth,
we don't like you either. Cause it's great to have
opinions, but a little respect for individuality and
freedom of choice would go along way. Especially
cause that's what the new generation should be
fighting for, not against.


Bersambung ke SID Archieve News 12b

Superman Is Dead on Facebook

mis, 26 April 2012

Superman Is Dead

Dari 4 besar pada babak final Hard Rock Rising 2012 chapter Bali, ini terpilih Superman Is Dead sebagai pemenang gelar Bali Finalis. Mereka akan lanjut mewakili cabang Bali bersaing bersama semua finalis terpilih dari masing-masing 86 cabang Hard Rock Cafe Global untuk meraih grand prize tampil sepanggung dengan Bruce Spriengstein and E-Street Band.
Acara puncak Hard Rock Calling 2012 ini nantinya akan diadakan di Hyde Park, London bulan Juli mendatang. Pecinta musik Indonesia berharap agar peraih grand prize ajang Hard Rock Rising tahun ini juga berasal dari Indonesia seperti prestasi Gugun And The Blues Shelter.
Di tahun 2011 lalu trio pengusung blues ini menjadi peraih grand prize. Mereka tampil sepanggung dengan Bon Jovi serta di hadapan ribuan penonton di Hard Rock Calling 2011, London.
Di penyisihan Hard Rock Rising Bali ini tercatat 4 band yang keluar sebagai pemenang. Ketiga band, Superman Is Dead, Dialog Dini Hari dan Nymphea yang berasal dari Bali bukan nama asing lagi di dunia panggung. Sedangkan di posisi keempat, pendatang baru dari Jogja, Black Finit juga berhasil mencuri perhatian juri dengan musik reggaenya.

aSaL UsuL SupermanIsDead

Superman Is Dead (disingkat SID) adalah sebuah grup musik dari Bali, bermarkas di Poppies Lane II - Kuta. Grup musik ini beranggotakan tiga pemuda asal Bali, yaitu: Bobby Kool sebagai gitaris dan vokalis, Eka Rock sebagi bassis, dan Jerinx sebagai drummer.

Pada awal mula kemunculan, sekitar akhir tahun 1995, SID terpengaruh gaya musik dari band-band asing seperti Green Day dan NOFX. Di kemudian hari, inspirasi musikal SID bergeser kegenre Punk 'n Roll à la grup musik Supersuckers, Living End dan Social Distortion.
Penggemar Superman Is Dead disebut Outsiders bagi yang laki-laki dan Lady Rose bagi yang perempuan.

Daftar isi

  [sembunyikan] 

[sunting]Sejarah

Superman Is Dead yang biasanya dipanggil SID terbentuk pada tahun 1995. Awal mula terbentuknya SID (Superman Is Dead) dimotori oleh anggota band heavy metal thunder bernama Ari Astina sering dipanggil Jerinx yang ingin membentuk band baru. Dan drummer band new wave punk diamond clash Budi Sartika yg biasa dipanggil Bobby Kool yang ingin menjadi gitaris dan vokalis.
Jerinx dan Bobby bertemu di Kuta Bali. Kedua orang itu kemudian sepakat untuk membentuk sebuah band. Pada saat itu bass masih diisi oleh additional bassist bernama Ajuzt. Band mereka pada awalnya membawakan lagu-lagu dari Green Day.
Hari berganti hari datanglah personel baru yang bernama Eka Arsana panggilannya Eka Rock. Eka menjadi resmi sebagai personel SID. Dulu nama bandnya bukan Superman Is Dead tetapi Superman Is Silver Gun. Kemudian karena nama Superman Is Silver Gun kurang cocok bergantilah menjadi Superman Is Dead atau SID. Superman Is Dead mempunyai arti yaitu bahwa manusia yang sempurna hanyalah illusi belaka dan imajinasi manusia yang tidak akan pernah ada.

[sunting]Album

[sunting]Kuta Rock City

Kuta Rock City dirilis secara resmi pada Maret 2003 dibawah label Sony Music Indonesia. Dengan single-single andalannya yaitu Punk Hari Ini dan Kuta Rock City yang kental dengan pengaruh Green Day dan NOFX langsung membuat nama SID disejajarkan dengan band-band rock.Selain beberapa lagu baru, SID juga menambahkan beberapa lagu lama dari album indie mereka tetapi dengan aransemen yang lebih baik dan baru. Album perdana SID ini langsung melambungkan nama SID sebagai band pendatang baru terbaik. Selain itu pula, ini merupakan langkah pertama SID di mayor label yang menimbulkan beberapa kontroversi di kalangan punk.

[sunting]The Hangover Decade

Album yang dirilis tahun 2005 ini merupakan penanda 10 tahun SID berdiri. Di album keduanya SID masih mengambil jalur Punk seperti pada album Kuta Rock City, Di Album ini SID kembali memasukkan beberapa lagu lamanya seperti Long Way to The Bar, TV Brain, Bad bad bad, dan Beyond This Honesty.

[sunting]Black Market Love

Album ketiga ini terkesan lebih dewasa[rujukan?], dengan lirik yang bercerita tentang kemarahan alam, keserakahan manusia, keadaan sosial dan politik. Dengan memasukkan unsur-unsur alat musik seperti akordion, trompet dan keyboards, seperti pada lagu Bukan Pahlawan dan Menginjak Neraka. Album ini dirilis tahun 2006.

[sunting]Angels & the Outsiders

Album keempat yang dirilis tahun 2009 pada mayor label ini mengesankan bahwa semakin dewasanya SID. Masih seperti album sebelumnya, SID tetap mengandalkan lirik sosial dan perlawanan terhadap penindasaan. Album kali ini SID masih memainkan musik punkrock dengan sentuhan rock n' roll. Album SID ini menuai keberhasilan. Salah satunya adalah SID berhasil diundang ke Warped Tour Festival di Amerika Serikat dan melaksanakan tour di beberapa kota di USA. Ini merupakan keberhasilan SID karena merupakan satu-satunya band Indonesia dan band kedua di Asia yang dipanggil ke Warped Tour walaupun album mereka tidak dirilis di USA.

[sunting]Diskografi

[sunting]Sony-BMG Music Entertainment Indonesia

[sunting]Rilisan Sendiri

[sunting]Kompilasi

[sunting]Video Klip

  • 2002 "White Town” Album “Bad Bad Bad” Director by Outsider Film
  • 2003 "Kuta Rock City” Album ”Kuta Rock City” Director by Rizal Mantovani
  • 2003 "Punk Hari Ini” Album “Kuta Rock City” Director by Ridwan
  • 2004 "Muka Tebal” Album ”The Hangover Decade” Director by Outsider Film
  • 2004 "Rock ‘N Roll Band” Album “The Hangover Decade” Director by Outsider Film
  • 2004 "Disposable Lies” Album “The Hangover Decade” Director by Umum Production
  • 2006 "Bukan Pahlawan” Album “Black Market Love ”Director by Eric Est Movie
  • 2006 "Black Market Love” Album “Black Market Love” Director by Bob Calabrito
  • 2007 "Menginjak Neraka” Album “Black Market Love” Director by Eric Est. Movie
  • 2007 "Lady Rose” Album “Black Market Love ”Director by Eric Est. Movie
  • 2007 "Goodbye Whiskey” Album “Black Market Love” Director by Outsider Film
  • 2008, Superman Is Dead Rock-A-Bali Australian Tour 2007, Produksi outSIDer Inc, Format DVD, For Promotional Stuff Not for Sale
  • 2009, "Kuat Kita Bersinar " Album " Angels and The Outsiders" Director by Patrick Effendy
  • 2009, "Jika Kami Bersama- Featuring Shaggy Dog " Album " Angels and The Outsiders" Director by Patrick Effendy
  • 2009," Saint Of My Life" Album " Angels and The Outsiders" ,A footage music video from SID American Tour 2009

[sunting]Award

  • Superman Is Dead "Hot & Freaky People 2003” MTV Trax Magazine January 2003
  • June 2003 Superman Is Dead “MTV Exclusive Artist of the Month”
  • Double Platinum Sony Music for Kuta Rock City Album
  • 2003, MTV Award “Most Favorite New Artist”
  • 2003, AMI Award “The Best New Artist”
  • 2004, SCTV Music Awards “The Most Famous Album Nominee, Pop Rock Category” for Kuta Rock City Album
  • 2006, AMI Awards “The Best Rock Album Nominee” for Black Market Love Album
  • 2006, “Superman Is Dead The Best Local Band” The Beat Awards.
  • 20 the best Indonesian Album 2006 for The Black Market Love Album. Rolling Stones Magazine Januari 2007
  • 150 the Best Indonesian Album for Kuta Rock City Album. Rolling Stones Magazine, Special Collectors’ Edition Desember 2007.
  • 50 Hype Things in Indonesian Music Industrial 2008 for Superman Is Dead.
  • Trax Music & Attitude Magazine Edition Januari 2008.

[sunting]Pranala luar

sejarah low Rider



Sepeda Low Rider pertama kali di perkenalkan pada tahun 1960an, sepeda ini pertama kali di perkenalkan oleh The “custom” king George Barris, sebelum menemukan sepeda low rider si Tuan King ini pekerjaanya adalah menceperkan mobil, Memang saat itu virus Mobil Low Rider sedang mewabah di kalangan anak muda Amerika, Tetapi trend itu hanya bisa dirasakan oleh anak2 muda dari keluarga kaya saja karena untuk membuat sebuah mobil low rider membutuhkan uang yang tidak sedikit, sementara anak2 dari kalangan bawah hanya bisa melongo.
Melihat situasi seperti itu si King mendapatkan ide dengan mencoba membangun sebuah sepeda yang mengacu pada kesan low rider, untuk eksperimen pertama kali si King menerapkan pada sepedanya. Mulailah si King ini memperkenalkan kreasinya dari situ bisa di tebak banyak anak2 dari keluarga yang kurang mampu beralih berkreasi membuat sepeda low rider.
Melihat peluang trend sepeda LR yang mulai di gandrungi akhirnya pada tahun 1963 pabrik sepeda SCHWIIN untuk pertama kalinya mengeluarkan model revolusi baru “New Cruiser STING RAY, model ini dibuat mengacu pada model motor model dragster yang sedang ngetop pd saat itu.Karena model tersebut nyaman di kendarai begitu juga dengan desainnya yg unik maka model tersebut menjadi booming dan digemari oleh anak2 muda.
Model Sting Ray
Dikalangan sekelompok anak muda di daerah selatan Los Angeles Chicanos sepeda Low Rider banyak yang telah di modifikasi seperti framenya, fork di buat spring fork trus dikasih tambahan spion dan yang paling extreme adalah frame di buat lebih ceper / pendek lagi, tapi kebanyakan dari mereka adalah memendekannya. Pabrikan sepeda Schwiin juga tidak mau kalah terispirasi kaum latin yang suka blink-blink maka mereka menambahkan lapisan krom pada sepeda buatannya seperti mobil2 low rider.
Sumber: indonesialowrider.wordpress.com
II. Grup Awal, Mati Suri dan Representasi Low rider

Sebuah grup yang terdiri dari anak-anak muda latin (Chicanos) dari timur Los Angeles, menganggap modifikasi yang dilakukan George Barris tidaklah cukup. Lalu mereka mengisi framenya (membuat tangki), menambah tiang dan bendera, kaca spion, merupakan modifiksi pertama yang mereka buat dan tentu saja merendahkan (ground clearance) sepedanya. Membengkokkan garpu adalah hal yang sangat umum untuk merendahkan sepeda pada saat itu.
Lowrider telah membuat cara pandang orang berbeda terhadap sepeda. Pilihan dalam merancang (mendesain) style atau tema yang diinginan tidak akan punya akhir. Namun pada awal ‘80an sepeda Lowrider mengalami mati suri, sedangkan BMX dan sepeda-sepeda Freestyle (mountain bike) menjadi pilihan utama produksi para produsen sepeda.
Walaupun Schwinn dan produsen sepeda yang lain mengalihkan membuat sepeda-sepeda BMX dan freestyle, pasaran sepeda-sepeda lowrider klasik masih sangat diminati. Hanya sedikit sepeda Lowrider yang berkeliaran dijalan pada masa mati suri itu dan kebanyakan hanyalah sepeda cruiser. Pelan tapi pasti, Stingray klasik menjadi sangat popular, hasilnya adalah sepeda Schwinn stingray klasik menjadi langka dan mahal dipasaran.
Hasil dari gaya memperbaharui ini telah membuka pintu bagi penerbit Lowrider Magazine Alberto Lopez , yang telah menginvestasikan waktu dan uang untuk mengembalikan penampilan sepeda klasik. Setelah beberapa bulan melakukan investigasi, Alberto tidak dapat membeli hak paten Schwinn Stingray, jadi tinggal ada satu pilihan yang dapat dia lakukan, membuat representasi dari Schwinn Stingray. Ini merupakan kelahiran dari Aztlan Cruiser dan juga Lowrider Bicycle Inc, yang telah menjadi penyedia keperluan suku cadang sepeda-sepeda Lowrider saat ini.
Sumber: jakartastreetlowrider.blogspot.com
II. Sejarah Sepeda Low rider di Indonesia

Sepeda jenis Lowrider masuk ke Indonesia sekitar akhir tahun 70an dengan sebutan yang bermacam-macam seperti salah satunya sepeda kumbang mini. Karena waktu peredaran atau penyebaran yang terbilang sempit kurang lebih sepuluh tahun, menjadikan sepeda jenis ini berjumlah lebih sedikit dibandingkan sepeda jenis ontel, MTB, mini dan BMX. Selain dari Indonesia, kebanyakan sepeda lowrider dengan jenis stingray 20 dan beach cruiser 26 didatangkan (import) dari negara-negara asia seperti jepang dan cina, walaupun terdapat pula sebagian kecil dari benua barat seperti Amerika dan Eropa. Dari Indonesia merk yang terkenal adalah Benny Indonesia, dari Jepang terkenal dengan merk Benny Japan, Fuji Feather, dan lain-lain, negara Cina dengan Phoenix dan negara benua barat dengan Schwinn (Chicago AS), Raleigh (Inggris), Stelber (Amerika), Murray (Amerika), Western Flyer (Amerika) atau pun dari Lowrider Bicycle Inc (Amerika/Australia).
Aliran Lowrider atau yang sering disebut dengan ceper masuk Indonesia sekitar pertengahan 90an. Pada awalnya Lowrider hanya dilakukan untuk kendaraan bermotor khususnya mobil. Karena modal yang dikeluarkan tidaklah terlalu mahal, banyak yang mengadopsi aliran ini. Pada akhir ‘90 aliran ini banyak diadopsi oleh para pemakai sepeda motor. Untuk sepeda sendiri tidak ada yang tahu pasti kapan aliran Lowrider mulai diikuti, sekitar tahun 2003 seiring dengan banyaknya pemakai dan pemodifikasi sepeda motor yang tertarik memainkan sepeda jenis ini, aliran lowrider pun mulai banyak dikuti sebagai dasar memodifikasi sepeda.

III. Berkembangnya sepeda Low rider di Indonesia
Sekarang sepeda Low rider sudah banyak di gandrungi anak – anak muda dan orang tua. Banyak di antara mereka yang sudah mempunyai sepeda low rider membuat sebuah klub – klub,untuk tempat mereka berkumpul,sharing bareng dan jalan – jalan memakai sepeda mereka masing – masing dari asal mereka kumpul atau base camp,ke tempat berkumpulnya seluruh sepeda low rider terutama di Jakarta dan sekitarnya. Di daerah Jakarta ada klub yang bernama Jakarta Street Low rider (JSL),mereka berdiri pada tahun 2006 tepatny bulan Mei.
Ada juga di daerah Bekasi dengan bernama Sweet Iron Low rider Bekasi Club (SIL BC),mereka berdiri pada tahun 2009 tepatny bulan Januari.
Dan ada juga yang di daerah Depok bernama Chopper & Low rider Street Depok (CLOSED), berdiri pada tahun 2007 tepatnya bulan April.
Biasanya pada akhir bulan tepatnya hari minggu mereka konvoi dari masing – masing klub bersepeda ke Bundaran HI dan terakhir di Senayan. Jadi,untuk menyelamatkan bumi ini dari pemanasan global mari kita bersepeda sambil berolahraga.”STOP GLOBAL WARMING”
Sumber: Chopper & Lowrider Street Depok “Closed”
Cheers
 ade outsider “CLOSED”



Sejarah Outsider



Pada tgl 2 Mei 2008 di sebuah t4 bernama Jendelo,sekelompok anak muda pecinta SID sepakat membentuk komunitas Jogja Outsider sbg wadah utk berkumpul bagi kalian2 sesama pecinta SID.Tujuan kami adalah membentuk wadah yg bersifat kekeluargaan bagi kami sesama pecinta SID utk berbagi info,pikiran,kesenangan dan ide2 kreatif dr masing2 anggotanya.
dgn berjalannya waktu jumlah anggota Jogja Outsider makin banyak dan kami memutuskan pindah markas di Kali Code,dimana disitu t4 yg nyaman utk kumpul sambil minum kopi bersama.

Seiring waktu berjalan,tak terasa genap 1th Jogja Outsiders bersama.Suka duka,pahit manis,benci cinta telah kita lewati bersama.dan di th pertama sejak terbentuknya komunitas Jogja Outsider maka kami memutuskan utk mengadakan regenerasi kepengurusan baru.setelah dgn banyak perundingan dan sbagainya dr masing2 anggota maka terpilihnya PERENK sbg ketua Jogja Outsider yg baru dan didampingi BUNCIZ di posisi Wakil ketua.diharapkan setelah regenerasi yg baru ini Jogja Outsider makin menuju langkah yg progresif.

Satu langkah lebih maju,kini kita bersyukur bisa mempunyai basecamp sendiri.basecamp yg nyaman,terhindar dr hujan dan dpt lbh leluasa utk menuangkan ide2 kreatif dr masing2 anggota.
di basecamp kami ini kalian2 sesama outsider dpt ikut serta menuangkan pikiran,tukar info,ide2 brilian.tidak terbatas di komunitas Jogja Outsider saja tp utk smua Outsider dimanapun kalian berada.

Akhir kata penutup,kami selaku anggota dan seluruh outsider ucapkan selamat kepada Perenk dan Bunciz yg telah dipilih menjadi ketua dan wakil yg baru.semoga kalian dpt mengerjakan tanggung jwab dan memegang kepercayaan yg telah diberikan anggota kpd kalian.



Yogyakarta,24 Januari 2009,
Best ReGards,
-Dewi'DeeLicious DJ'-
Diposkan oleh view_cand di 23:58 0 komentar
Label: Sejarah Outsider Jogja
Reaksi:

We Are The OutSIDer SID

June 4, 2009

Sedikit Profil Bangunnya Superman Is Dead!
Band yang terbentuk tahun 1995(baru umur 3 tahun saya) karena personil sebuah band heavy metal Thunder bernama Ari Astina aka Jerinx merasa bosan yang ingin mencari sesuatu yang baru dan juga drummer band new wave punk Diamond Clash Budi Sartika aka Bobby Cool juga sedang ingin berganti profesi tuk menjadi seorg gitaris dan vokalis. Secara kebetulan kedua pemuda ini Bertemu di Kuta bali. Pada saat itu posisi bass masih diisi oleh additional bassist bernama Ajuz.dan lagu Grenn day yang mengisi mereka di konser konser SID. namun tak lama kemudian,lewat seorg drug dealer…datanglah seorg bernama Eka Arsana aka Eka Rock….dan dia ini kebetulan sedang dlm pencarian identitas diri,oleh krn itu merasa tertarik dg visi dari kedua pemuda tersebut…maka resmilah eka bergabung dg Jerinx juga Bobby…Dan pada saat itu mrkpun mengambil nama dulu yang bernama Superman’s SilverGun di ubah menjadi SUPERMAN IS DEAD!

keseharian mereka ini tidak lepas sama alkohol!
Sampai kapan SID akan berdiri? ” Selama masih ada Alkohol”

dan Fans Superman is dead yang Bernama OutSIDer

We Are The OutSIDer!

Salah satu kebanggaan kami sebagai outsider.
batapa bangganya kami sebagai outsider, kususnya outsider ponorogo mendengar berita bahwa
Superman Is Dead manggung di 16 kota di Amerika, dalam rangkaian tour ‘From Bali With Rock’ dan ‘Warped Tour 2009′ pada 12 Juni hingga 9 Juli. Dua konser yang waktunya beruntun tersebut merupakan mimpi agung Superman Is Dead, selama ini (kata boby sang vokalis+gitaris)

“Ini pencapaian yang kami impikan sekaligus sebagai pijakan untuk membuka mata hati industri musik kita agar bersikap lebih fair terhadap seni musik alternatif,” kata Bobby.

Konser berlabel “From Bali With Rock” yang digalang oleh “event organizer” asal Philadelphia, Mastra Production, merupakan konser untuk mempromosikan Pulau Bali dan Indonesia pada umumnya kepada publik Amerika.

“Intinya kami akan mempromosikan Bali dan Indonesia pada khususnya sebagai tempat yang indah untuk dikunjungi dengan segala kerukunan dan keanekaragamannya,” kata Bobby.

Sedangkan dalam konser Vans Warped Tour, SID merupakan band Asia kedua yang mampu menembus salah satu festival musik terbesar di Amerika itu.

“Kami bangga menjadi band pertama di Indonesia dan band kedua di Asia yang mampu menghentak publik Amerika melalui festival itu,” kata pembetot bass SID, Eka Rock.

Sebelumnya, band asal Negeri Tirai Bambu, China, telah berhasil terlebih dahulu unjuk gigi dalam festival musik Amerika itu. Vans Warped Tour merupakan festival musik terbesar di Amerika yang menampilkan band-band independen, seperti NOFX, Green Day dan The Offspring.

Direktur Senior Artis dan Repertoar Sony BMG Indonesia, Jan Djuhana mengatakan Sony BMG bangga dengan prestasi SID di kancah internasional.

“SID menjadi kebanggaan karena mewakili Indonesia dalam pentas musik internasional dan disandingkan dengan band-band tenar seperti NOFX dan The Offspring,” katanya.

Sebanyak 16 kota di Amerika yang akan dikunjungi SID yaitu Philadelphia, Baltimore, New York, Seattle, Los Angeles, Pomona, San Fransisco, Ventura, Phoenix, Las Cruces, San Antonio, Houston, Dallas, Indianapolis, Pittsburgh, dan Cleveland
 Diposkan oleh ade di magelang 05:28 0 komentar